Ketika Aku dan Kamu Menjadi Kita

Rangkuman tausyah:

Ketika menikah, hal yang paling diharapkan adalah Berkah.
Karena itu, Uqail bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu telah menikah. Di tengah kebahagiaannya, ia merasakan kegundahan saat mendengar tamu mendoakannya dengan mengucapkan

بِالرَّفَاءِ وَ الْبَنِيْن

“semoga bahagia dan banyak anak”
Tak mau berlarut-larut dalam kegundahan dan demi meluruskan kekeliruan, Uqail pun mengatakan kepada tamu tersebut: “Janganlah kamu mendoakan demikian karena Rasulullah telah melarangnya.”

“Lalu, aku harus mendoakan bagaimana?”
“Ucapkanlah doa yang diajarkan Rasulullah:

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَ بَارَكَ عَلَيْكَ وَ جَمَعَ بَيْنَكُمَا فِيْ خَيْرٍ
‘Semoga Allah menganugerahkan barakah kepadamu, semoga Allah juga menganugerahkan barakah atasmu, dan semoga Dia menghimpun kalian berdua dalam kebaikan’”
Semoga bahagia dan banyak anak. Hal ini belum menjadi bingkai keseluruhan kebahagiaan dunia dan akhirat. Kebahagian bukan selalu menjadi puncak kebaikan, sebab bahagia selama-lamanya adalah Akhirat. Bahagia selalu tidak dijanjikan di dunia sebab dunia ini adalah tempat dimana yang bahagia baru terasa sempurna jika diselingi dengan hal yang menitik kesedihan, penderitaan.

Sebagaimana Allah telah mensumpahkan bahwa ujian itu pasti datang dan allah yang beri ujian ini untuk membuat hambanya berhasil dan membuat Allah makin sayang kepadanya.

Bahagia bukan selalu hal yang terjamin dalam rumah tangga, apalagi memiliki banyak anak bukan juga merupakan puncak kebaikan. Contoh kisah Nabi Ya’kub bin Ishak bin Ibrahim: jumlah anaknya adalah 12. anak 10, yang saleh telah hilang. Nabi Ya’kub ia memiliki akhlak yang shaleh. Belum tentu seluruh anaknya menjadi shaleh, apalagi kita. Maka doa yang Rasulullah ajarkan adalah memuncaki seluru kebaikan.

  • Barakallahu laka artinya semoga Allah memberi berkah kepadamu. Kepadamu disini, menurut ulama memberi berkah dalam kebahagian, lapang seta menerima nikmat.
    Hal-hal kebaikan bila tidak didoakan, berkahnya menjadi masalah. Maka, didoakan sejak awal sehingga berkahnya bertambah dan kebaikan disisi Allah juga bertambah. Kebaikan disini berupa ketaatan, mesra antara keduanya dalam melakukan perebutan amal saleh.
  • Wabaraka ‘alaika. Artinya : dan semoga Allah berikan berkah atasmu. Kata ‘alaik, hurufnya ‘ala dalam bahasa arab adalah atasmu. Sedangkan dalam bahasa Indonesia ialah semoga Allah berikan berkah hal-hal yang menimpamu. Seperti ujian, kehilangan, kesedihan, musibah. Jika tidak didoakan akan menjadi musibah pula.
  • Waja’alna bainakuma fii khair. Artinya: dihimpun oleh Allah dalam kebaikan. Kebaikan di dunia adalah ketaatan kepada-Nya dan kebaikan diakhirat adalah balasan-Nya (Surga Allah SWT).Maka ‘Menikah bukan untuk bahagia, tetapi untuk keberkahan.

 

Indikator-indikator keberkahan:

terdapat dalam QS. Ar-rum :21.

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًۭا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةًۭ وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar-Rum: 21)
Min anfusikum dalam tafsirnya Imam Ar-Rozi menyebutkan:

  1. Dari diri-diri kalian.
    Allah menciptakan pasangan Adam dari bagian dirinya (Hawa). Sebagaiman dalam HR Bukhari Dari rusuk kirinya wanita, yakni belahan yang tidak akan terpisahkan dari laki-laki. Dengan kesadaran penuh Wanita dan laki-laki jangan mencari yang sempurna karena laki-laki dan wanita dalam kehidupan rumah tangga harus saling menyempurnakan.
  2. Jiwa.
    Karena hubungan suami istri adalah hubungan jiwa (Tidak hanya hubungan raga saja). Syarat yang ditentukan oleh ulama dalam kesekufuan antara laki-laki dan perempuan dalam menikah:
    Sekufu atau setara dalam Agama. Hal ini dituntut sebagai syariat (fiqh).
    Jiwa adalah saling kenal. Ibarat pasukan dengan pasukan yang lainnya yang saling kenal dengan menggunakan sandi. Nah kita dalam berumah tangga demikian pula seperti itu, akan tetapi sandinya adalah ingat kepada Allah
  3. Nafas. Orang yang menikah karena Allah seperti nafas yang menjadi daya hidup bagi lingkungan dan disekitarnya.
  4. Mitsaqon Ghalizo.
    Yaitu:
    Janji Allah dan Rasul Ulul Azmi untuk mengemban Risalah meski harus berjuang mengorbankan nyawa.
    Perjanjian Allah dan bani Israil. Sampai Allah mengangat bukit Tur Sina diatas kepala orang bani Israil karena ketidaktaatan mereka dengan perintah Allah.
    Pernikahan.
    Maka jangan main-main dalam pernikahan sebab hal ini setera dengan Janji Allah dan Rasulnya serta perjanjian Allah dan bani israil.

Hikmah Pernikahan

  1. Merasakan Sakinah bersama pasangan.
    Maksud sakinah oleh Imam At-Thabari:
    – Supaya menjaga kesucian masing-masing pasangan
    – Bisa membangun ikatan lahir dan batin terhadap pasangan kalian
    – Senantiasa cenderung hati dan pikiran terhadap pasanganmu
    – Tentram ketika bersama dan berpisah.
  2. Waja’ala bainakum mawaddah.
    Mawaddah artinya cinta yang bergelora yang mengisi hari-hari kalian dengan semangat. Ada kata ja’ala yang artinya adalah proses atau syarat. Jadi dalam mengekspresikan cinta kita juga harus memiliki ilmu.
    Pepatah yang mengatakan cintailah orang lain sebagaimana engkau dicinta itu tidak berlaku di dalam pernikahan. Tetapi hal ini untuk ukhuwah kepada sesama (yaitu: ukhuwah sesama laki-laki, ukhuwah sesama perempuan).
    Karena laki-laki dan perempuan dari segi psikologis pun sangat berbeda dan apabila kita telah menikah, kita harus memahami karakter masing-masing, suami paham karakter istri sebagai perempuan dan istri paham karakter suami sebagai laki-laki.

Wallahu a’lam

jika ada pernyataan yang salah dan khilaf mohon diberitahukan ke saya. terima kasih 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *